Sabtu, 02 Juni 2012

resensi kajian stilistika


 Memahami Kajian Stilistika
Perspektif Kritik Holistik
Identitas Buku
Judul               : KAJIAN STILISTIKA Perspektif Kritik Holistik
Pengarang       : Ali Imron Al- Ma’ruf
Tahun terbit     : 2010
Penerbit           : Sebelas Maret University Press
Jumlah Hal      : 318
Buku ini membahas stilistika karya sastra  Ronggeng Dukuh Paruk yang memadukan kajian linguistik (dengan menganalisis diksi, kalimat, wacana, bahasa figuratif, dan citraan) dengan kajian makna stilistika trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk yang multidimensi yang memanfaatkan teori semiotik, Interteks dan Resepsi Sastra, selain itu sejalan dengan pendekatan kritik holistik, guna memudahkan interpretasi makna Ronggeng Dukuh Paruk, dilakukan pula kajian latar sosiohistoris Ahmad Tohari sebagai pengaranng beserta kondisi sosiokultural dekade 1960-an yang menjadi latar cerita Ronggeng Dukuh Paruk.
Dalam buku kajian stilistika ini terdiri dari tujuh bab. Bab 1 berisi pendahulan, bab II terdiri dari landasan teori dan kerangka berpikir, bab III berisi metodelogi penelitian, bab IV stilistika novel ronggeng dukuh paruk (faktor objektif) yang mengkaji gaya kata (diksi), gaya kalimat, gaya wacana, bahasa figuratif, citraan, bab V latar sosiohistoris ahmad tohari dalam stilistika novel ronggeng dukuh paruk (faktor genetik) yanng membahas tentang biografi Ahmad Tohari, karya-karya Ahmad Tohari, latar sosiohistoris Ahmad Tohari, kondisi sosial budaya pada dekade 1960-an, karakteristik kepengarangan Ahmad Tohari, dan faktor-faktor yang melatari lahirnya novel Ronggenng Dukuh Paruk. Bab VI makna stilistika trilogi novel Ronggenng Dukuh Paruk dalam tanggapan membaca ( faktor afektif) yang terdiri dari subbab dimensi kultural, dimensi sosial: empati terhadap wong cilik, dimensi humanistik: pembunuhan mental sebagai tragedi kemanusiaan yang terabaikan, dimensi moral: moralitas yang terpinggirkan oleh budaya, dimensi jender: resistensi perempuan, terhadap hegemoni kekuasaan laki-laki, dimensi religositas, dan dimensi multikultural: Ronggenng Dukuh Paruk sebagai sastra multikultural. Pada bab VII berisi simpulan, impliksi penelitian dan saran dengan subba sebagai berikut simpulan, implikasi penelitian, saran-saran.
Isi umum dari bab I menjelaskan tentang karya sastra, serta latar belakang yang mendasari penelitian ini, sedangkan padas bab II garis besr yanng disampaikan adalah landasan teori yang membahas berbagai konsep teoritis yang berkaitan dengan topik penelitian yang akan dikemukakan dalam bab ini, yang membahas seputar stilistika, studi linguistik dalam karya sastra, bahasa sastra, novel 72 indonesia  mutakhir, teori struktural dinamik, teori semiotik, teori interteks, teori resepsi sastra, kritik (seni) holistik, dan teori hermeneutik. Deskirpsi teori tersebut dimaksudkan sebagai landasan dalam pemahaman konsep yang akan menuntun peneliti dalam melaksanakan penelitian stilistika RDP ini
Garis besar isi dari bab III  metodologi penelitian sebagai berikut dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis metode kualitatif-deskripsi. Penelitian kualitatif memiliki karakter analissis data dilaskuakan secara induktif dan makna menjadi perhatian utama (Bogdan & Biklen, 1984: 14). Dalam penelitian ini tidak hanya mengkaji bagaimana stilistika yang dipakai pengarang dalam RDP, melainkan juga mengkaji mengapa dan untuk apa pengarang menggunakan stilistika demikian. Sumber data penelitian ini ada dua macam yaitu pustaka dan informan. Pengumpulan data dalam penelitian ini ditempuh dengan langkah sebagai berikut. Pertama dilakukan pembacaan dan penghayatan sumber data utama yakni novel RD. Pembacaan dilakukan berulang-ulang dengan penuh intensitas dan penghayatan. Selanjutnya, pengumpulan data dilakuakan dengan teknik analisis isi yang meliputi teknik simak dan catat serta teknik pustaka, dan wawancara mendalam. Data penelitian juga dikumpulkan melalui kelompok diskusi terbatas atau Focus Group Discussion (FGD).
Bab IV stilistika  berisi stilistika novel ronggeng dukuh paruk (faktor objektif), dalam bab ini dibahas diskripsi gaya kata (diksi) pada bagian ini dilakukan dengan memperhatikan wujud kata sebagai simbol serta maknanyasesuai dengan latar belakang  Tohari sebagai pengarang RDP. Diskripsi ini dimulai dengan mengidentifikasi data-data berupa kutipan yang melukiskan penggunaan diksi, baru diakhiri dengan analisis  secara induktif dan deduktif disertai dengan argumentasi kritis. Deskripsi diksi dibagai menjadi tujuh bagian, yakni a. Kata konotatif, b. Kata konkret, c. Kata serapan, d. Kata sapaan khas dan nama diri, e. Kata seru khas jawa, f. Kata vulgar, dan g. Kata dengan objek realitas alam.
Bab V latar sosiohistoris ahmad tohari dalam stilistika novel ronggeng dukuh paruk (faktor genetik) akan disajikan latar sosiohistoris Ahmad Tohari beserta kondisi masyarakat lingkungannya pada dekade 1960-an yang merupakan realisasi faktor genetik. Yang terdiri dari biografi Ahmad Tohari, karya-karya Ahmad Tohari,latar sosiohistoris Ahmad Tohari, kondisi sosial budaya pada dekade 1960-an, karakteristik kepengarangan Ahmad Tohari, faktor-faktor yang melatari lahirnya Ronggeng Dukuh Paruk.
Bab VI makna stilistika trilogi novel Ronggenng Dukuh Paruk dalam tanggapan membaca ( faktor afektif) berdasarkan analisis stilistika trilogi novel Ronggenng Dukuh Paruk dengan memperhatikan latar sosiohistoris pengarang beserta kondisi sosiokultural pada dekade 1960-an pada bab sebelumnya, bahwa RDP mengandung gagasan yang multidimensi. Gagsan yang multidimensi itulah rupanya yanng menjadi esensi makna RDP. Gagasan yang merupakan makna novel Ronggenng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang terformulasi dalam stilistika RDP menurut tanggapan pembaca adalah sebagai berikut. a. Dimensi kultural, b.dimensi  sosial, c. dimensi humanistik, d. dimensi moral, e. dimensi jender, f. dimensi religositas, dan  g. dimensi multikultural.
Bab VII berisi simpulan, yang menjelaskan bahwa bagaimana tinggi nilai literernya, setelah dianalisis secara kritis ternyata RDP memiliki beberapa kelemahan. Pertama, adanya pengungkapan Srintil sebagai gowok dalam bagian cerita RDP yang terkesan dipaksakan atau diselipkan (hlm. 212-226). Kedua, tokoh-tokoh cerita RDP yang menjadi kawan-kawan Srintil pada masa kecil seperti Warta dan Darsun hilangbegitu saja. Ketiga, adanya kejanggalan pada Nyai Kartareja yang sempat memperingatkan Srintil untuk melaksanakan puas senin-kamis (hlm. 361). Keempat dalam bercerita Tohari menggunakan bentuk akuan hanya pada bab 1,2,3,4. Kelima, adalah suatu kejanggalan bahwa Rasus yang masih muda tidak pernah menempuh pendidikan formal dapat berbicara banyak tentang sosiokultural dan penghayatan ke-Ilahi-an yang mendalam.
Bidang kajian yang dianalisis dalam buku KAJIAN STILISTIKA Perspektif Kritik Holistik meliputi diksi, kalimat, wacana, bahasa figuratif, dan citraan. dengan kajian makna stilistika trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk yang multidimensi yang memanfaatkan teori semiotik, Interteks dan Resepsi Sastra, selain itu sejalan dengan pendekatan kritik holistik, guna memudahkan interpretasi makna Ronggeng Dukuh Paruk. Kajian stilistika Ronggeng Dukuh Paruk ini merupakan kajian stilistika genetis yakni memfokuskan kajiannya pada karya Ahmad Tohari dengan pendekatan pertama yakni dimulai dengan analisis sistem linguistik karya sastra, dilanjutkan dengan interperetasi tentang ciri-ciri kebahasaan dan tujuan estetik karya dalam mendukung makna. Dengan demikian, kajian stilistika RDP dilakukan dengan mengkaji bentuk dan tanda-tanda linguistik yang digunakan seperti terlihat dalam struktur lahir. Tanda-tanda stilistika dapat berupa: 1) leksikal, misalnya penggunaan kata konotasi atau konkret dan vulgar, 2) sintaksis, misalnya jenis kalimat, struktur dan panjang pendek, 3) wacana, misalnya kombinasi kalimat, paragraf, termasuk alih kode dan campur kode, penggunaan bahasa figuratif, misalnya pemajasan, idiom, dan peribahasa, dan 5) citraan.
Deskripsi diksi dibagi menjadi tujuh bagian yakni, a. kata konotatif, b. Kata konkret, c. Kata serapan dari bahasa asing, d.kata sapaan dan khas nama diri, e. Kata seru khas jawa, f. Kata vulgar, g. Kata dengan objek realiata alam. Sedangkan yang dikaji dalam gaya kalimat meliputi, a. kalimat dengan penyiasatan struktur yang terdiri dari kalimat inversi, kalimat elipsis, kalimat pendek dan sederhana, kalimat majemuk, penggunaan konjungsi pada awal kalimat, b. Kalimat dengan sarana retorika yangterdiri dari, kalimat paralelisme, kalimat repetisi, kalimat klimaks, kalimat antiklimaks, kalimat antitesis, kalimat hiperbola, kalimat koreksio, kalimat paradoks, kalimat aliterasi. Selain diksi dan gaya kalimat di dalam kajian stilistika ini juga mengkaji gaya wacana. Gaya wacana yang dikaji terdiri dari, wacana dengan sarana retorika yang meliputi, wacana repetisi, wacana paralelisme, wacana klimaks, wacana koreksio. Gaya wacana alih kode .
Bahasa figuratif juga merupakan bagian dari bidang kajian stilistika. Bahasa figuratif dalam buku kajian stilistika RDP ini terdiri dari majas, tuturan idiomatik, peribahasa. Sealain gaya bahasa dalam buku kajian stilistika RDP ini juga menggunakan bidang kajian citraan yang meliputi citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan perabaaan, citraan penciuman, citraan gerak, citraan pencecapan, citraan intelektual
Adapun beberapa gagasan yang merupakan makna novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang terformulasi dalam stilistika RDP menurut tanggapan pembaca sebagai berikut.
a.       Dimensi kultural
1.      Kesenian ronggeng: kebudayaan lokal yang berdimensi global
Novel RDP bagi Tohari merupakan media untuk mengungkapkan eksistensi budaya atau tradisi jawa yang kaya nuansa dan kaya nilai, tidak kalah dengan budaya modern. Ronggeng adalah kesenia etnik jawa yanng menjadi aset budaya bangsa yang turut memperkaya khasanah kebudayaan nasional bahkan budaya global. Ronggeng merupakan bentuk keberagaman budaya lokal jawa yang turut memberikan kontribusi bagi pengayaan kebudayaan nasional bahkan kebudayaan global yang multikultural.
2.      Ronggeng dan  pengukuhan mitos
Novel RDP merupakan pengukuhan mitos dan ritual. Srintil menganggap ritual bukak klambu sebagai sebuah keharusan. Demikian pula sebagai ronggeng, Srintil juga sundal yang berperan sebagai pemangku hasrat kelelakian. Semua dialami dipandang sebagian dari sistem tradisi yang harus dijalani dengan rela. Pementasan ronggeng bagi masyarakat jawa tradisional diyakini memilki kekuatan magic-simpatetis. Melalui pementasan ronggeng diharapkan keberkatan muncul. Tanaman menjadi subur, pasanga segera memiliki keturunan, dan masyarakat terhindar malapetaka. Kesenian ronggeng merupakan mitos dan menjadi pusat kekuatan penduduk desa seperti halnya slametan atau bahkan sholat tahajud bagi kaum santri.
3.      Kearifan lokal pada zaman global: intertekstualitas dengan ajaran islam
b.       Dimensi Sosial: Empati Terhadap Wong Cilik
RDP merupakan wujud pembelaan Tohari terhadap wong cilik (rakyat kecil) yang sejak dulun sering menjadi korban konflik politik. Dalam RDP konflik anterelit politik yang merebutkan kekuasaan telah menjerumuskan bangsa indonesia ke dalam tragedi peristiwa G30S/PKI. Srintil adalah simbol wong cilik yang tidak tahu menahu bahkan buta politik yang harus menerima akibat dari tragedi politik tersebut yakni di penjara selama dua tahun dengan perlakuan yang tidak manusiawi. Pada geger politik 1965- mungkin juga sekarang banyak rakyat kecil yang nasibnya seperti srintil. Mereka ditahan bahkan banyak yang dibunuh padahal sama sekali tidak tahu menahu tentang politik. Mereka tidak berdaya menghadapi keniscayaan sejarah yang amat menyakitkan itu.
c.        Dimensi Humanistik: pembunuhan mental sebagai tragedi kemanusiaan yang terabaikan
srintil kehilangan citra kemanusiaannya, gila, setelah mendapatkan deraan batin bertubi-tubi dari Bajus: 1. Tidak dinikahi Bajus, 2. Diminta melayani nafsu hewani Blengur (atasan Bajus), padahal dia sudah bertekad meninggalkan dunia mesumdan menjadi perempuaan somahan, 3. Dan dituduh sebagai anggota PKI. Meskipun wujud manusia, sejatinya Srintil telah kehilangan kemanusiaannya. Inilah sebuah tragedi kemanusiaan semacam itu sejatinya lebih kejam daripada pembunuhan fisik. Anahnya, di masyarakat tindak kekejaman luar biasa itu sering luput dari jerat hukum dan sanksi sosial.
d.       Dimensi Moral: moralitas yang terpinggirkan oleh budaya
melalui citraan intelektual dalam RDP Tohari menggelitik pembaca untuk berpikir bahwa sebenarnya ronggeng sebagai kesenian tidak menjadi masalah asalkan dikembangkan di atas bangunan seni yang berlandaskan moral selaras dengan ajaran Tuhan. Bagi Tohari yang dikembangkan dengan berorientasi pada wawasan birahi tidak akan mendatangkan rahmat bagi kehidupan umat manusia. Sebaliknya ronggeng juga kesenian lain yang demikian hanya akan mendatangkan laknat bagi kehidupan manusia seperti yang terjadi di Dukuh Paruk. Oleh karena itu, ronggeng harus diluruskan kembali menuju keselarasan dengan kehendak Tuhan.
e.       Dimensi Jender: resistensi perempuan terhadap hegemoni kekuasaan laki-laki
melalui tokoh Srintil RDP mengekspos resistensi kaum perempuan terhadap hegemoni kekuasaan laki-laki. Srintil ditampilkan sebagai perempuan yang memiliki kemandirian dan harga diri sehingga dapat menolak laki-laki yang tidak disukainya, meskipun laki-laki itu pejabat terhormat. Sebaliknya, Srintil melawan tradisi ronggeng dengan memiliki laki-laki idaman hati dan suka rela melayani laki-laki yang diinginkannya. Sebagai duta keperempuan srintil tidak melihat laki-laki sebagai pihak superior yang menguasainya. Bagi Srintil, laki-laki dan perempuan tidak dpandang dikotomis. Di mata Srintil laki-laki memilki banyak kelemahan terutama yang berupa kebutuhan pengakuan atas kelakilakian mereka. Pada saat itulah justru perempuan hadir dengan keperkasaannya.
      Srintil tahu, laki-laki segagah apapun dapat menjadi sangat ringkih dan merengek-rengek ketika dia sedang mabuk kepayang. Terbukti dengan adanya puluhan bahkan ratusan laki-laki hanya dapat melongo dengan pikiran kalng kabut hanya oleh lirikan mata, pacak gulunya, atau goyang pinggulnya yang erotis ketika Srintil sedang meronggeng.
f.        Dimensi Religiositas
mealui RDP Tohari menyampaikan dakwah kultural dengan menyentuh hati nurani, mengelus lembut perasaan dan menggelitik pemikiran pembaca apapun agamanya. Dakwah kultural dalam karya sastra menjadi menarik karena ajaraan agama diungkapkan bukan menggerombol ayat suci yang lazim dilakukan oleh kyai atau pendeta melainkan melalui dialog para tokohnya secara dramatik bahakan terkadang teatrikal. Dakwah kultural itu antara lain. 1) pesan moral melalui tradisi peronggengan ritual bukak klambu dan tugas ronggeng sebagai pemangku hasrat kelakian yang tidak sejalan dengan ajaran Tuhan, harus dibenahi, 2) pentingnya moralitas dalam kehidupan keluarga, 3) gagasan untuk menyelaraskan diri dan selera Tuhan melalui tokoh Rasus. Inilah hakikat religiositas dalam karya sastra, estetika sebagai ekspresi religiositas.
g.       Dimensi Multikultural: ronggeng dukuh paruk (RDP) sebagai satra multikultural
RDP mengekspose keunikan budaya lokal Jawa Banyumas sebagai salah satu keberagaman budaya nasional yang mampu memperkaya kebudayaan global
Gagasan yang ada dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk sebagai berikut. Novel ini sebenarnya adalah bagian pertama dari trilogy. Ketiga adalah sebuah cerita bersambung. Novel ini juga tampil dengan latar yang amat kuat, memikat dan khas. Adapula yang menafsirkan sebagai novel yang mengandung dakah islam, sebagaimana yang tercermin dalam tokoh Rasus.
            Novel ini merupakan awal cerita dari trilogy tersebut. Dalam novel ini menceritakan terntang dukuh paruk yang kering kerontang menampakkan kehidupan kembali ketika Srintil, bocah yang berumur sebelas tahun, menjadi ronggeng. Penduduk dukuh yang merupakan keturunan Ki Secamenggala, seorang bromocoroh yang dianggap sebagai moyang mereka, menganggap bahwa kehadiran Srintil akan mengembalikan citra perdukuhan yang sebenarnya. Dukuh paruk akan lengkap jika di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah serapah, dan ada ronggeng bersama calungnya. Srintil merupakan potret anak dukuh paruk yang yatim-piatu akibat bencana tempe bongkrek. Enam belas penduduk meninggal karena memakan tempe yang terbuat dari ampas kelapa itu. Tak terkecuali pembuat makanan itu, yaitu kedua orang tua Srintil. Srintil yang saat itu masih bayi, kemudian diasuh kedua kakek neneknya, Sakarya suami istri. Sang kakek yakin bahwa, srintil telah kerasukan indang ronggeng. Srintil dilahirkan untuk menjadi ronggeng atas restu Ki Secamenggala.
            Sebagaimana layaknya seorang ronggeng yang sesungguhnya, Srintil harus meleawti tahap-tahap untuk menjadi seorang ronggeng yang sesungguhnya. Setelah ia diserahkan kepada Kertareja, udkun ronggeng di dukuh itu, srintil harus dimandikan di depan cungkup makam Ki Secamenggala. Srintil juga harus melewati tahap Bukak Klambu. Ia tidak mungkin naik pentas dengan memungut bayaran bagi setiap laki-laki yang mampu memberi sejumlah uang sebagai syaratnya. Rasus adalah orang merasa dongkol dengan syarat tersebut. Teman main Srintil sejak kecil ini bukan hanya cemburu dan sakit hati karena Srintik dilahirkan menjadi ronggeng, yang berarti milik umum, tetapi karena kegadisannya srintil yang disayembarakan. Yang lebih panas lagi adalah ketidakmampuannya sebagai anak yang berumur empat belas tahun untuk mengubah hokum yang sudah pasti terjadi. Ia hanya dapat mendengarkan pertengkaran Dower dan Sulam di emper samping rumah Kertareja. Kedua laki-laki bajingan itu masing-masing merasa dirinyalah yang pantas untuk meniduri Srintil pertama kali sesuai dengan syarat yang ditentukan Kertareja, seringgit uang emas.
            Kenyataan menunjukkan lain dan tidak diduga oleh Rasus. Sebab Srintil tiba-tiba dilihatnya berada di belakang dan meminta Rasus untuk menggaulinya. Ia lebih suka menyerahkan kegadisannya kepada Rasus daripada kepada kedua orang yang memuakkan Srintil. Rasusu tidak menolak keinginan orang yang merupakan baying-bayang ibunya yang entah kemana itu. Dower dan Sulam menyusul kemudian sementara Kertareja dan istrinya mengeruk keuntungan seringgit uang dari Sulam dan seekor kerbau serta dua buah rupiah perak dari Dower.
            Setelah mendapatkan pengalaman yang pertama kali dirasakannya, Rasus meninggalkan dukuh paruk. Ia menjadi benci kepada Srintil yang sudah menjadi ronggeng yang sesungguhnya. Srintil sudah menjadi milik umum dan baying-bayang Emaknya dicabut dari Srintil. Tapi demi rahim yang telah membungkusnku, aku tak tega membayangkan emak sebagai perempuan yang ramah terhadap semua laki-laki. Yang tak pernah menepis tangan laki-laki yang menggerayanginya, tidak betapapu aku tak mampu berkhayal demikian.
            Begitulah, kehidupan Desa Dawuan tempat pengasingan diri dari adapt dukuh paruk, membuat pandangan Rasus banyak berubah. Pengenalan atas dunia wanita yang dialaminya di Dawuan pun banyak membuat pandangan terhadap Srintil sebagai tokoh bayang-bayang ibunya bergeser jauh, bahkan berhasil disingkirkan. Oleh karena itu, ketika Rasus ditawari oleh Srintil untk menjadi Suaminya, ia kemudian menolak hal itu. Langkah Rasus pasti dan keputusan untuk menolak Srintil pun pasti, dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Sritil kepadanya, aku memberi sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk, yaitu ronggeng. Dengan keputusan itu, Rasus yakin bahwa ia bias hidup tanpa kehadiran bayangan emak, bayangan yang selama ini membuatnya resah.
            Dalam buku KAJIAN STILISTIKA Perspektif Kritik Holistik ini memiliki kelebihan, yaitu spesifikasi atau fokus pada pembahasan stilistika karya sastra RDP yanng memadukan kajian linguistik (dengan menganalisis diksi, kalimat, wacana, bahasa figuratif, dan citraan) dengan kajian makna stilistika trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk yang multidimensi yang memanfaatkan teori semiotik, Interteks dan Resepsi Sastra, selain itu sejalan dengan pendekatan kritik holistik, guna memudahkan interpretasi makna Ronggeng Dukuh Paruk, dilakukan pula kajian latar sosiohistoris Ahmad Tohari sebagai pengaranng beserta kondisi sosiokultural dekade 1960-an yang menjadi latar cerita Ronggeng Dukuh Paruk. Di dalam buku ini juga dibahas secara tuntas tentang latar belakang terciptanya novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dimana terdapat pada bab V latar sosiohistoris ahmad tohari dalam stilistika novel ronggeng dukuh paruk (faktor genetik) akan disajikan latar sosiohistoris Ahmad Tohari beserta kondisi masyarakat lingkungannya pada dekade 1960-an yang merupakan realisasi faktor genetik. Yang terdiri dari biografi Ahmad Tohari, karya-karya Ahmad Tohari,latar sosiohistoris Ahmad Tohari, kondisi sosial budaya pada dekade 1960-an, karakteristik kepengarangan Ahmad Tohari, faktor-faktor yang melatari lahirnya Ronggeng Dukuh Paruk. Serta penulis menyertakan kutipan yang ada di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, sehingga memudahkan pembaca memahami apa yang disampaikan penulis, serta memudahkan pembaca dalam memperoleh gambaran tentang novel Ronggeng Dukuh Paruk. Keistimewaan buku ini juga dipaparkan semua bentuk kebahasaan seperti diksi dibagi menjadi tujuh bagian yakni, a. kata konotatif, b. Kata konkret, c. Kata serapan dari bahasa asing, d.kata sapaan dan khas nama diri, e. Kata seru khas jawa, f. Kata vulgar, g. Kata dengan objek realiata alam, sebagai sarana ekspresi. Bahasa yang digunakan dalan buku KAJIAN STILISTIKA Perspektif Kritik Holistik komunikatif sehingga mudah dipahami oleh pembaca.
            Dalam buku Kajian Stilistika Perspektif Kritik Holistik ini tidak luput juga dari kesalahan penulisan, ada sedikit kesalahan dalam penulisan, serta masih ada tata bahasa yang kurang tepat. Tapi semuanya telah tertutupi dengan isi buku yang bagus.
Dengan adanya buku Kajian Stilistika Perspektif Kritik Holistik ini mempermudah interpretasi makna karya sastra. Oleh karena itu kajian stilistika karya satra perlu dilakukan pada karya sastra lain dan ditingkatkan frekuensi dan kuantitasnya disamping kualitasnya. Hal itu penting dalam rangka saintifikasi interpretasi dan pengungkapan makna sastra yang lebih ilmiah. Denga adanya buku ini merupakan jembatan emas dalam proses pemaknaan karya sastra. Selama ini kajian sastra oleh para kritikus atau akademisi sastra dipandang terlallu subjektif dan kurang ilmiah.
Dari pelaksanaan kajian stilistika novel Ronggeng Dukuh Paruk dapat disarankan pentingnya para kritikus atau akademisi sastra untuk memperdalam linguistik dalam upaya melengkapi penelitian sastra. Hasil penelitianini menunjukkan bahwa kajian stilistika mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam interpretasi makna karya sastra. Hal ini mengingat karya stilistika merupakan formulasi dari bentuk ekspresi pengarang dalam menuangkan gagasan atau idenya dalam karya sastra.
Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dapat dipandang karya sastra multikultural yang memilki kandungan makna dan gagasan yang multidimensi baik dimensi sosial, kultural, moral, religius, maupun gender. Berdasarkan nilai keunggulan tersebut makan selayaknya novel RDP tersebut dijadikan bahan atau objek kajian baik dalam kuliah satra perguruan tinggi maupun pembelajaran sastra di sekolah.
Mengingat pentingnya stilistika dalam karya satra selayaknya jika buku ini bisa dijadikan referensi pada perkuliahan di pedrguruan tinggi khususnya jurusan sastra  atau ilmu pengetahuan budaya atau jurusan pendidikan bahasa dan satra. Adapun materi perkuliahan dapat ditekankan pada: hakikat stilistika, tujuan stilistika, funsi style ‘gaya bahasa’, hubungan stilistika, estetika dan ideologi, hubungan gaya bahasa, ekspresi pengarang, dan gagasan, unsur-unsur stilistika, jenis kajian stilistika, style ‘gaya bahasa’ sebagai tanda dan langkah-langkah dalam kajian stilistika.















LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar